Assalamualaikum wr wb, Selamat datang di dunia kecilku, aku berharap di sini kita dapat saling berbagi ilmu, berbagi cerita, ataupun sekedar bertukar pikiran. agar kita semua bisa mendapat manfaat dari dunia kecilku. terima kasih atas kunjungannya..

Rabu, 09 Maret 2011

Surat Terakhir

“Sabtu, 13 maret 2010,

Ma, aku tak pernah menyangka bila ucapan ulang tahun dan Tulusnya Doa darimu tahun lalu adalah yang terakhir sebelum sebulan setelahnya Mama pergi meninggalkan aku, meninggalkan kami semua dengan setumpuk perasaan bersalah, tapi tentu saja perasaan bersalahku yang kurasakan paling besar, karena akulah yang paling berdosa terhadap Mama. mungkin jika setiap anak yang durhaka akan langsung berubah menjadi batu seperti malin kundang, tentulah aku termasuk salah satu diantaranya.

Ma, kalau mungkin aku bisa bertemu Mama secepatnya, mungkin itu akan sedikit mengurangi bebanku, karena aku akan dapat langsung menyembah memohon kata maaf darimu. karena yang kutau surga adalah di bawah telapak kaki Ibu, bagaimana mungkin aku dapat menghirup bau surga jika yang kulakukan sepanjang hidupku adalah terus melukai perasaan Mama, bahkan sampai saat terakhir kepergian Mama.

Itu yang kupikirkan dulu Ma, sebelum Papa dan beberapa teman memberitahuku, bahwa mungkin aku masih dapat sedikit membalas segala kebaikan Mama meskipun kita sudah berbeda alam. Ada 3 hal yang membuat pahala tetap bisa mengalir : Doa Anak shaleh, Ilmu yang bermanfaat, dan, shodaqoh jariyah.

Doa anak shaleh akan didengarkan Allah, itu yang mereka katakan. Tapi apakah aku bisa menjadi anak shaleh Ma?? Jujur aku ragu, tapi mungkin itu adalah satu-satunya jawaban mengapa si “anak mama” ini masih bisa bertahan sampai sekarang, meski tanpamu, itu karena aku akan berusaha dan belajar untuk dapat menjadi anak shaleh agar doa-doaku untuk Mama dapat tersampaikan. Insya Allah..

Apa Mama disana juga dapat merasakan kangenku?? Apa mungkin mama juga bisa merasakan kekosonganku sekarang?? Apa Mama tau kegelisahan yang kurasakan tiap kali aku melihat sosok yang sebaya Mama?? apa Mama tau, tiap kali aku melihat gamis seukuran Mama terpajang di manekin, aku seolah dapat melihat Mama di sana yang mengenakan gamis Indah itu.

Bukan Ma.. Bukan aku tak rela dengan kepergian Mama, tentu saja aku ikhlas. Bagaimana mungkin aku dapat tidak ikhlas ataupun marah jika sesuatu yang memang hanyalah pinjaman untukku diambil kembali oleh SANG PEMILIK. Aku hanya tidak dapat melupakan semua kenangan indah kita dulu, aku tidak dapat melupakan semua kasih sayangmu Ma. Meskipun begitu aku bahagia karena aku yakin Mama di sana sedang asik bermain dengan para bidadari,, ganjaran atas kesabaran Mama menahan semua sakit yang Mama rasakan selama ini.

13 Maret 2009, seolah baru kemarin kita berpisah, karena meski setahun berlalu tanpamu Ma, aku masih dapat merasakan kehadiran Mama di hatiku, di Lamunanku, di tiap Mimpi dan Doaku.,”

Tanpa terasa butiran air mata mengalir membasahi pipi Aisyah, dia tidak pernah menyangka akan menemukan surat-surat ini di laci dalam kamar adik semata wayangnya. Bukankah sudah beberapa kali Aisyah membuka laci dan membereskan semua barang peninggalan adiknya, tapi tak pernah dia menemukan surat-surat yang kini telah berada di genggamannya itu.

Gadis berjilbab biru laut itu kembali menatap lembaran surat di tangannya, sesaat kemudian dia sudah tenggelam dalam isi surat ke-2.

“Rabu, 11 Agustus 2010,

Mama apa kabarnya di sana?? Sudah cukup lama sejak aku menuliskan surat pertamaku. Meskipun begitu, tak cukup untuk menghilangkan rasa kangen dan juga rasa bersalahku padamu.

Hari ini hari pertama puasa di bulan Ramadhan, dan itu artinya, ini adalah bulan puasa ke-2 yang kami lalui tanpamu Ma. Rasa kangen yang begitu membuncah membuatku untuk menuliskan surat ke-2 ini. Meskipun aku tau, pada akhirnya nanti surat ini pun hanya akan menyusul surat pertama, teronggok dalam laciku. karena aku tak tau harus kemana mengirimkan surat ini. Aku berharap, meski tanpa kukirim pun, mama akan dapat membaca suratku.

Apa mama dapat melihat usahaku untuk berubah selama ini? adakah perkembangan yang terjadi padaku Ma? Dapatkah aku membuatmu tersenyum di sana? Sudahkah Doaku tersampaikan padamu?? Begitu banyak tanya yang menunggu jawaban, jawaban yang tak pernah dapat kuketahui.

Entah mengapa, sekarang mama sudah tidak pernah menghiasi mimpi-mimpi malamku, apakah Mama terlalu asik menari dengan para bidadari, sehingga tak sempat mengunjungiku? Ataukah karena aku yang terlalu menyibukan diri, sehingga alam bawah sadarku tidak lagi dapat memutar rekaman tentang Mama?

Maafkan aku Ma, tapi hanya dengan menyibukan dirilah aku dapat mempertahankan kewarasanku. Bukankah Papa dan kak Aish juga melakukan hal yang sama? Menenggelamkan diri dengan dunianya masing-masing,mencoba dengan caranya sendiri untuk dapat menatap masa depan tanpa terjebak akan kenangan masa lalu.

Mungkin Mama dapat melihatku yang mulai dapat tersenyum dan tertawa. Tapi apakah Mama dapat menangkap adanya perbedaan yang tersirat dari senyum dan tawa yang kini sering kuperlihatkan pada Papa, Kak Aish dan semua sahabatku?

KETULUSAN??

Yah, mungkin memang benar Ma. Aku tidak dapat lagi tersenyum dengan tulus, karena Senyum dan Tawaku kini terasa hambar, hatiku seolah enggan tersenyum, otakku seolah tak dapat lagi mencerna berbagai cerita lucu yang digunakan para sahabat untuk menghiburku.

Bagaimana mungkin aku dapat tersenyum, jika aku tau begitu hinanya diri ini, adakah manusia yang lebih hina dari seorang anak durhaka?


Bulan Ramadhan adalah Bulan suci yang penuh berkah dan ampunan, mungkinkah aku mendapat ampunanNYA di bulan ini Ma?? “

Tuntas sudah surat ke-2 di lahapnya, Gadis manis itu terduduk lemas, sementara butiran air bening terus mengalir menghanyutkan binar dari mata indahnya. Terbayang kembali sosok ceria sang adik, senyum dan tawanya. Hampir tidak pernah gadis itu melihat sang adik menampakkan kerapuhannya, bahkan di saat pemakaman Almarhumah Mama dulu pun Sang adiklah yang justru terlihat paling tegar, hanya meneteskan beberapa air mata, setelah itu kembali ia ceria. Teringat kembali saat itu justru sang adiklah yang dengan sabar berada disisinya, menghiburnya dan akhirnya membuatnya kembali bangkit dari keterpurukan.

Sesaat kemudian Aisyah terjaga dari lamunannya, kembali ia menatap surat terakhir hasil temuannya itu, haruskah ia melanjutkan membaca surat itu sampai akhir? Tidakkah ini termasuk perbuatan lancang dan tak amanah, membaca surat tanpa ijin dari pemiliknya. tapi sekarang kepada siapa ia harus minta izin? Sesaat kemudian rasa penasaran membuat batinnya berontak, tanpa pikir panjang lagi, segera dibukanya surat ke-3

“Jum’at, 05 November 2010

Ma, setelah berusaha keras, ternyata memang sulit untukku jika tidak menulis surat lagi padamu ^_^,


Apakah Mama tau, setelah sekian lama aku berusaha untuk memendam gundah seorang diri, akhirnya aku dapat menemukan sahabat-sahabat yang membuatku kembali menemukan cahaya hidup.

Bersama mereka aku tau betapa berharganya waktu. akan merugi seseorang jika menyia-nyiakan waktu hanya untuk terpaku pada masa lalunya. Bersama mereka aku terlibat dalam berbagai gerakan kemanusiaan. Berkumpul bersama para korban bencana membuatku menjadi semakin kuat, Malu diri ini melihat Amir, bocah umur 15 tahun yang meski harus kehilangan kedua orang tuanya karena menjadi korban tanah longsor, Amir masih ceria, bahkan dia juga ikut membantu keluarga teman-temannya yang ikut menjadi korban.


“ngapain sedih Mas, lah wong nanti kita juga bakal ngumpul lagi kok akhirnya, tinggal pilih aja, mau ngumpulnya di surga ato neraka, hehe.” itu katanya.


Aku selalu trenyuh jika mengingat kembali pemikiran polos Amir, dan mungkin itu juga yang membuatku sadar Ma. Aku harus menjadi shaleh bukan hanya untuk Mama, tapi juga untuk diriku sendiri, dan lebih dari itu, bukankah kita semua memang tercipta di dunia adalah untuk beribadah hanya kepadaNYA. Meskipun tanpa embel-embel surga atau neraka.


Di hari Jum’at yang suci ini, semoga bisa menjadi titik balikku untuk berubah ke arah yang lebih baik, Insya Allah. Dan nanti siang adalah langkah awalku meniti jalan yang digariskan oleh Allah SWT, aku dan teman-teman akan berangkat ke Sleman, menjadi sukarelawan untuk korban merapi di sana Ma, apakah Mama sudah bisa tersenyum bahagia sekarang?? 


Ma, mungkin ini adalah surat terakhirku untukmu, bukan karena aku ingin melupakanmu, karena tidak mungkin aku dapat melupakan seorang wanita mulia sepertimu. aku hanya tidak ingin terjebak pada kenangan masa lalu, meskipun teramat sulit bagiku, tapi akan kucoba untuk tidak lagi menulis surat padamu. Kalaupun aku akan berbincang lagi padamu, itu hanyalah lewat Doa-doaku yang selalu kukirimkan untukmu.
"

Raut muka Aish berubah seketika. Memang air mata masih belum juga berhenti mengalir, tapi seulas senyum sudah terpasang di bibirnya. Bukan air mata kesedihan yang keluar kali ini, melainkan air mata haru.

Terbayang kembali beberapa bulan lalu, saat berita duka kembali menghampiri keluarganya ketika mendapat kabar bahwa salah satu relawan yang menjadi korban wedus gembel di merapi adalah adiknya.

“Selamat jalan Mujahid kecilku, tentu kamu bahagia bisa berkumpul kembali dengan Mama di sana.” Bisiknya lirih.


(mohon maaf kalau (cerpennya terlalu monoton dan terkesan curhat,-komentar Nida.), karena awalnya, ini hanya sekedar penawar bagi hati yang merindu. rindu karena belum bisa mengunjungi makamnya, di setahun kepergiannya. Insya Allah yang selanjutnya akan berusaha untuk membuat yang lebih baik lagi.)


0 komentar:

Photobucket
Template by : kendhin x-template.blogspot.com